Senin, 07 Juni 2010

Sungai Pinyuh, Segi Tiga Emas yang Belum Tertata

Oleh Johan Wahyudi

Kota Sungai Pinyuh merupakan pusat pasar terbesar di Kabupaten Pontianak. Kota Sungai Pinyuh terletak 17 Km dari pusat pemerintahan Kota Mempawah. Aktivitas masyarakat sangat tinggi, baik pedagang, pembeli dan pengunjung yang berasal dari daerah lain. Sungai Pinyuh dikenal sebagai simpang tiga emas. Masyarakat dari Hulu mau ke Pontianak harus melalui Kota Sungai Pinyuh, begitu juga sebaliknya. Begitu juga dari Sambas dan Singkawang ingin ke Pontianak harus melalui Kota Sungai Pinyuh.

Pembangunan di Kota Sungai Pinyuh, bisa dibilang sangat pesat. Bangunan ruko tiga tingkat, bahkan sarang burung walet semakin menjamur. Namun perhatian pemerintah daerah demi memajukan Kota Sungai Pinyuh, belum terlihat jelas. Tata ruang terlihat semberaut, sehingga bangunan terkesan tidak tertata baik.

Contoh kecil, dreanase di depan ruko-ruko. Seluruh dreanase bisa bilang telah tersumbang. Musim hujan dipastikan pusat kota Sungai Pinyuh akan tergenang air. Hal ini, sangat mengganggu para pengguna jalan, baik pejalan kaki, roda dua dan roda empat. Begitu juga tempat pembuangan sampah atau tong sampah sudah jarang terlihat di depan-depan ruko, kalaupun ada kondisinya juga sudah berantakan, sehingga sampah terkesan berserakan, bahkan sungai menjadi tong sampah terbesar.

Kita sangat riskan melihat ini, seharusnya Pemda memberikan perhatian serius. Kita ingin Sungai Pinyuh menjadi kota yang bersih dan tertata rapi. Sehingga pengunjung betah berlama-lama di Kota Sungai Pinyuh. Hal ini, tentu berdampak positif bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), misalnya dari pengeolahan parkir, sampai pajak restoran yang netu memberikan pemasukan PAD, belum lagi dari sektor lainnya. Apalagi bisa dibilang minat pengusaha berinventasi di Kota Sungai Pinyuh cukup besar, lihat saja sudah ada pengusaha berani membangun green city di kota Sungai Pinyuh, melalui modal pribadi. Bahkan dealer-dealer mobil  dan sepeda motor juga semakin banyak, tentu saja menandakan kemajuan bagi Kota Sungai Pinyuh.

Apalagi efek dari pembangunan semakin maju, tentu berimbas kepada peningkatan perekonomian masyarakat Sungai Pinyuh. Terutama para pedagang-pedagang kecil. Bisa dilihat banyak pedagang asongan di pasar Sungai Pinyuh, setiap hari mencari rezeki dari para pengunjung. Jika bis berhenti di Terminal Sungai Pinyuh, mereka dengan semangat menawarkan dagangannya. Begitu juga rumah-rumah makan baik Cina, Melayu, Padang dan lain-lain, selalu dipenuhi pengunjung.

Kini hanya tinggal bagaimana para pemimpin dan elit politik di Kabupaten Pontianak, memikirkan dan merumuskan bagaimana membentuk Kota Sungai Pinyuh, bisa menjadi lokomotif  perekonomian daerah. Apalagi setelah terjadi pemengkaran, wilayah Kabupaten Pontianak semakin kecil dan aset-aset daerah juga telah berpindah ke kabupaten pemengkaran. Hal ini, tentunya berimbas pada peningkatan PAD, maka Pemda, maupun wakil rakyat harus memikirkan dan melihat potensi-potensi besar di 9 kecamatan di Kabupaten Pontianak, salah satunya kecamatan Sungai Pinyuh yang memiliki aset-aset besar yang belum tergarap secara maksimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar